ads

BREAKING THE WALL

Tags:
Rapat sore itu agak sedikit muram. Sang Pimpinan membuka rapat dengan banyak istighfar,”Yah inilah konsekwensinya jika perusahaan kita ini ingin berkembang. Kita harus berani ambil resiko seperti ini. Sekarang atau tidak sama sekali!” tegasnya.
“Tapi bos, investasinya lumayan besar. Bagaimana kita mengatasinya?” rekan saya bertanya.
“Kita berdo’a saja kepada Allah. Kita hanya berusaha tapi dia yang menentukan. Lagipula kita punya misi untuk mendukung aktivitas ke-Islaman dari hasil usaha kita. Masak sih do’a kita tidak didengar” katanya meyakinkan kami semua.
“Iya Bos, kalau kita punya modal cukup sih, tidak masalah. Persoalannya darimana dana sebesar itu harus kita siapkan. Lagipula masih banyak proyek kita yang belum selesai. Wah..berat sekali, Bos….”
“Saya juga belum tahu. Tapi percayalah, kita sudah sering ditolong oleh Allah disaat-saat genting. Mari kita perkuat keyakinan kita, dimana ada kesulitan pasti ada kemudahan.” Sang Bos berusaha menasehati dan memberikan semangat.
Ternyata apa yang dikatakan Sang Bos benar-benar terjadi. Keyakinannya menjadi kenyataan. Semua persoalan dilalui dengan sangat berat, tapi semua itu berganti menjadi kemudahan karena keyakinannya.

Itulah sepenggal cerita dari seorang rekan saya yang bekerja di sebuah perusahaan yang sedang berupaya keras mempertahankan dan mengembangkan bisnisnya. Sebuah langkah yang fenomenal diambilnya, bayangkan dalam kondisi perusahaan yang sedang sulit saja, dia tetap mengambil keputusan beresiko tinggi tanpa ragu sedikit pun. Dia sebenarnya sedang menantang dirinya untuk melakukan hal diluar batas kemampuannya. Keberanian yang patut diacungi jempol. Saya yakin dia adalah salah seorang pebisnis tangguh yang akan membawa perusahaannya menuju kesuksesan.

Saya jadi ingat dengan kata-kata yang dibuat oleh Reza Syarief seorang supertrainer: Never put any limitation at your start, but if you have done you know your limit. Kita tidak pernah tahu sejauh mana keterbatasan yang kita miliki, hingga kita mencobanya. Banyak orang yang memiliki kemampuan mengagumkan tapi hidupnya tidak beranjak maju disebabkan dia tidak pernah mendobrak tembok keterbatasan dirinya. Ada seorang sahabat dekat punya kemampuan seni luar biasa. Dia mampu melukis, mencipta lagu dan wajahnya lumayan ganteng. Tapi ternyata ketika ditanya kenapa sampai saat ini dia belum juga menikah, jawabannya seribu satu alasan dari mulai dari ekonomi yang belum mapan sampai urusan mental yang belum siap. Padahal jika mau, dia pasti mampu.

Keterbatasan yang melingkupi kita disebabkan oleh cara pandang kita terhadap kehidupan yang sudah terlanjur terkotak-kotak. Waktu kuliah di kampus, kita ditempatkan pada ruangan yang berbeda sesuai jurusan pilihan kita. Sehingga ketika lulus kita hanya mempunyai sudut pandang dari apa yang kita pelajari. Rumah tinggal kita di bangun atas ruangan-ruangan sehingga mempersempit pandangan kita. Akhirnya membuat kita menjadi orang-orang dengan fikiran sempit. Padahal dunia ini terhampar luas tanpa batas, coba anda tengok ke langit. Subhanallah seakan tanpa batas.

Lantas, bagaimana caranya mendobrak keterbatasan cara berfikir kita? “Kenali dirimu maka kau takkan terkalahkan. Kenali lawanmu maka tak ada lawan yang tak bisa dikalahkan,” Demikian Tsun zu seorang ahli strategi perang memberikan pandangan termasyhurnya tentang memenangkan peperangan. Kuncinya ada di dalam diri kita sendiri. Mengenali sisi-sisi kelemahan diri, mengakuinya kemudian menantangnya dengan gebrakan-gebrakan kecil. Lalu mulai menfilter apa saja perkataan orang yang bisa mempengaruhi pola fikir kita.

“Buat apa begitu, kamu pasti gagal. Itu susah tahu”

“Kamu kan lulusan teknik sipil, nggak mungkin jadi pedagang?”

“Saya nggak mampu deh kalo diberi pekerjaan seperti itu”

Jika boleh disimpulkan apa yang dikatakan sun Zu, pertama sekali yang harus kita lakukakan adalah mengalahkan diri kita sendiri kemudian mengoptimalkannya untuk mengenal siapa musuh kita. Sehingga setangguh apapun musuh yang dihadapi maka kemenangan akan berada di tangan kita.

Rasulullah SAW ketika usai perang Badr mengatakan,”Kita baru meninggalkan jihad kecil, menuju jihad besar.” Para sahabat yang mengalami sendiri begitu besarnya perang Badr terheran-heran mendengarkan pernyataan ini. Nabi pun menjelaskan jihad yang paling besar adalah jihad untuk menundukkan hawa nafsu.

Kalau saja apa yang dilakukan oleh bos teman saya itu semata hanya dilandasi oleh hawa nafsu, tentu sulit membayangkan dia akan dapat mengobarkan semangat kepada para karyawannya untuk terus maju membangun bisnisnya. Sulit juga dimengerti kenapa ia mengambil keputusan seperti itu. Menggarap proyek tanpa dukungan modal yang memadai. Bagaimana kalau gagal? Bukankah lebih aman jika menyelesaikan proyek yang masih belum selesai?. Tapi pilihan-pilihan mudah dan enak itu dia abaikan. Filosofi Breaking The Wall yang ditunjukannya berakar dari pemahamannya akan keterbatasan yang dimilikinya kemudian dia mendobraknya dengan keyakinan bahwa segala sesuatu di dunia ini jika Allah berkehendak maka tidak ada yang mustahil di dunia ini. Jadi kapan giliran kita?

Lagi Hangat